Robot Unicorn Button Beats Virtual Piano 4.0
buttonbass.com

Minggu, 22 September 2013

PIDATO HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA ( 17 Agustus 2013 ) Bahasa Oirata


Harara / narara no’or kara upupur  toutour!!
Api sesel ler tono yamoi ne api Ratlapai iro nie, ina’a wadutinaa apte ina’a ita me punu , sukan roro yayawani. 

Harara / narara no’or kara upupur  toutour!!
Uru Ahustus tie Indonesia ti uru a’araumanai , uru Ahustus wadu ta’anaun rian pitu tawan riunaun rasiwa ta’an pat rian lim ( 17 agustus 1945 ) na’a  Indonesia ti modoasi , to aiti matu tawan taan nem rian kapa ulayete ro. Api Indonesia  tie  matu ladara walwaluran ti tana mudua’a malhemara ne yenate.  Apte ede tirmakasih lapan me api lapidara al tielen ina nie, we lapan ta elereo,waye uraso he, na’u wari titile ne yenaten ti anaye.

Harara / narara no’or kara upupur  toutour!!
Aiti aputu sirwisi tu’urana , til taru uhanetun na’a malnate ro,to ina ’a wisar amu “ Ita Ada Didne Ita Ada Dainen “ ti pai to tawa ruri . ti’imudua’a ante uste nie api aliarualana tie, apu yalu ne umarkira-kira ne pai tawa yani. Alana wadu umar’a ma’u-ma’un tie api tana muduni to api aliarualana tita eme pan’suile pe’ena. Ita ada didne ita ada dainen nen ti mudua’a aptono api lapidara ti nini lari ne iskolo ti pai to tawa nuhutina, line-linen teheren ti wertala kawala, o’o uhanetun yanin ti pai,to tawa roro yayawanin ti tono umar’a ma’u.
An lukun wisar ta ina’iri ethaini anilukun ti mudua’a isa ye siarane,isa ye urarane, I tono an salan ti me an neren ederemu, to Ratlapai tono  na’uwari api pipihakane. Tirma kasih

Aptono na’uwari  Yenattira  !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Cornelis Latuminse
 
Selamat pagi, Salam sejahtera bagi kita sekalian.
Syalom.. !
Puji syukur  kita  persembahkan ke hadirat Tuhan yang maha kuasa karena  oleh perkenanan-Nya kita masih sehat secara jasmani dan rohani, serta dapat berkumpul di tempat ini.
Bapak/ibu/saudara/I sekalian..
Bulan agustus merupakan bulan yang sangat bersejarah bagi bangsa indonesia , dimana selaku warga indonesia yang baik, kita patut bersyukur kepada Tuhan karena lewat anugrsh-Nya 68  tahun yang lalu tapatnya 17 agustus1945, negara indonesia boleh di lahirkan dan merdeka dari tangan-tangan penjajah yang begitu kejam. Kita patut berterimah kasih juga kepada pahlawan-pahlawan kita yang penuh dengan semangat 45 memperjuangkan kemerdekaan negara indonesia meskipun banyak penumpahan darah tapi tidak pernah menguras semangat mereka untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Bapak/ibu,sdr/I sekalian
Sekarang kita sudah menjadi warga negara indonesia yang bebas dari penjajahan, kerja paksa dan sebagainya. Untuk itu melalui tema pidato “meningkatkan rasa nasionalisme di beranda NKRI”
Saya mengajak kita sekalian untuk meningkatkan semangat generasi muda yang mampu memberikan perkembangan karna generasi muda merupakan generasi penerus bangsa,  rasa nasional kita dengan cara mendukung pemerintah melalui pendidikan ,pembangunan infra struktur,keamanan dan lain-lain. Semua ini di lakukan demi terciptanya masyarakat indonesia yang adil,damai,makmur,dan sejahtera.
Demikian pidato ini saya sampaikan mohon maaf jika ada kata-kata yang keliru. Lebih dan kurangnya saya mengucapkan banyak terimah kasih,teriring salam dan doa Tuhan memberkati kita semua.
Salam sejahtera bagi kita sekalian.
Merdeka….!! Merdeka…..!!
 

Senin, 09 September 2013

KISAH TIGA PAK TUA OIRATA PERGI MEMANCING



Ada tiga orang bapak tua dari oirata yang kesukaannya adalah memancing ( meti pai )
Mancing bukan sekedar untuk makan tetapi sudah menjadi hobi mereka. 
Suatu hari mereka berjanji untuk pergi memancing bersama ( ita kaiwana )
Hari mulai petang dan mereka mulai berkemas menyiapkan peralatan untuk melaut.  Mereka berrencana untuk loren ( melaut ) di pantai litti ( lilit ) menggunakan perahu ( losu )
karena perjalanan ke liti cukup jauh, mereka mulai berjalan saat matahari hampir masuk ke peraduannya. sesampainya di sana hari mulai gelap, mereka mulai mengatur tugas masing-masing, dua bapak tugasnya memancing dan bapak yang lainnya mendayung perahu.
Tugas masing2 telah disepakati dan mereka mulai bertolak ke laut ( loren ). Perahu melaju hingga melewati Ker Lapai dan mereka berhenti dan mulai memancing di area Loron Wisi, mereka sangat hafal tempat yang banyak ikannya.
Namun saat itu mungkin ikannya sedang kekenyangan atau apa, sehingga sudah berjam-jam tetapi belum mendapat ikan yang banyak seperti biasanya, kedua bapak yang bertugas memancing itu mulai ngantuk dan keduanya mulai berencana untuk tidur. Bapak yang duduk di bagian depan perahu mulai melemparkan umpannya ke laut dan berkata kepada bapak yang tugasnya mendayung perahu, katanya " hae,, modale, ate i'i pale to ante isa taya tii " sambil menyerahkan pangkal tasi kepada pendayung perahu tadi. Tak lama kemudian bapak yang di belakang pun berkata “ modale, ante ede i’pusal lolore ti hoo….. dan Ia pun tertidut pula.
Karena dingin kedua bapak ini tidur berselimutkan kain tanah yang tebal tenunan sendiri ( nami lau ). Tinggalah bapak pendayung perahu yang masi duduk di bagian tengah perahu yang tidak ada tempat untuk tidur. Malam semakin larut, ikan pun tak kunjung datang menggetarkan tasi yang sedang dipegang oleh sang pendayung akhirnya Ia pun mulai ngantuk sedangkan kedua bapak itu semakin terlelap ( haroson koukoure ).
Malam pun tambah larut, kira-kira pukul 2 pagi ngantuk sang pendayung perahu tak tertahan lagi sedangkan tidak ada tempat untuk berbaring, ia berpikir “ it taya le pani ha anutu i’nanamire le umamara pana ??”  Ia pun berdiri dan kaki yang satunya berada di dalam perahu sedangkan kaki yang lainnya menginjak dan menekan pinggiran perahu ( losui serin lare to )  perahu pun miring dan kedua bapak yang sedang terlelap dan mungkin saat itu sedang bermimpi indah akhirnya jatuh ke dalam air. Serentak terkejut di dalam air “ eta i’naima, eta ina paina !!! “ teriak kedua bapak tua itu dalam air memaki dan memarahi pendayung perahu.
Dengan santai dan polos si pendayung berkata “ harara i’nusa pe’e nara ene to apte i’ sukan nusa e, i ‘ yeyen itu inusan te’eee “ 
Sambil marah dan maki-maki kedua bapak tua itu berusaha untuk naik kembali ke peraahu. Getaran gigi keduanya terdengar dan membuat si pendayung perahu itu tertawa kecil, sambil bertanya “ harara ee, aputu lere pana ?? “  Dengan sisa-sisa marah itu bapak yang di depan berkata “ yo, aputu lere “
Akhirnya malam itu mereka pulang dengan tidak membawa ikan.
Dan cerita mereka menjadi sebuah kisah yang tak pernah terlupakan dari generasi-ke generasi.

 I Love Oirata

Jumat, 28 Juni 2013

Kasih Ayah Dan Bunda


Kasih ibu sepanjang masa
kasih ayah sepanjang jalan
Kasih ayah dan bunda terhadap kita
kekal di sepanjang hayat....       
Mereka melahirkan dan membesarkan kita

Kadangkala dengan hidup yang  serba kekurangan
mereka tetap mengorbankan kesenangan mereka
demi melihat kita dibesarkan dengan perhatian
dan ilmu yang membuat kita bakal menjadi insan yang berguna
di kemudian hari kelak

Betapa senangnya hati mereka...                             
apabila melihat kesuksesan kita di dalam apapun pekerjaan yang kita tekuni
di hati mereka tersemat satu perasaan 
yang ingin bersama setiap kebahagiaan yang kita kecapi
setiap saat agar anaknya berada di depan mereka       
dan sesekali tidak melupakan mereka

Tetapi mereka sadar apabila anaknya besar dan berumah tangga
anaknya harus melalui kehidupan mereka sendiri              
dan terpisah jauh dari pandangan mata                       
doa mereka agar anaknya senantiasa bahagia                  
dan sesekali tidak akan lupa kepada mereka

Sekiranya kata-kata pepatah                                 
apabila kita menangis dia juga menangis                     
dan apabila kita tertawa dia juga tertawa                   
sesunggunya kalimat ini layak dituju kepada kedua orang tua kita
begitulah mereka………………                                    
Kadangkala jiwa mereka teriris                                  
Apabila melihat anaknya lebih mendekati                         
dan menghormati orang lain lebih daripada mereka                
Tetapi karena cinta suci mereka kepada kita                     
Mereka pendamkan saja keharuan yang melanda hati  
Demi melihat kebahagiaan anak mereka

Sekiranya diamati….                                            
Kedua orang tua lebih membutuhkan ingatan 
serta kehadiran kita di sisi mereka
Daripada harta yang kita berikan kepada mereka 
Tetapi di saat mereka masih hidup              
Kita lalai dan lupa…                          
Dan terdapat segelintir dari kita              
yang hanya bertemu dan bertanya kabar kepada mereka
Hanya beberapa kali dalam setahun                  
Seumpamanya mereka itu bukan insan yang berharga lagi dalam hidup kita
Bahkan beberapa dari kita berani untuk menantang mereka               
dengan suara yang lantang…                                           
Hanya karena pendidikan kita sudah lebih tinggi dari mereka….        
Hanya karena pengetahuan kita lebih….                                
Kadangkala hanya karena mengikuti kemauan orang lain                  
Yang baru saja kita kenal ketika kita dewasa….                       
Kita berani menghancurkan kebahagiaan mereka                          
Kita berpura-pura lupa….                                             
Siapa yang memasukan puting susunya ke dalam mulut kita agar kita bisa kenyang
Siapa yang mengangkat ketika kita jatuh saat belajar berjalan 
Siapa yang memegang lengan kita dan menuntun kita berjalan    
Siapa yang memberi makan kita saat tangan kita belum kuat memegang sendok
Siapa yang selalu tersenyum dan tertawa                
walaupun kotoran yang bau mengotori bajunya yang usam...
Mamaaaaaaaaaaaaaaaaaaa................... !!!!          
Papaaaaaaaaaaaaaaaaaaa....................!!!!          
Aku berjanji  !!                                        
tak ada orang lain yang kucintai lebih daripada mama dan papa…..!!!!

Marilah teman…..                                                    
Di saat kesempatan masih ada                                         
Kita tunjukan dan bri perhatian serta kasih saying kita kepada ayah dan bunda
Agar di hari-hari akhirnya dipenuhi dengan kebahagiaan                       
Dan bukannya kebimbangan serta kesedihan melihat kita                        
Yang belum memiliki  hidup yang menjanjikan.    

“Duhai Anakku, bukan hartamu yang kami tunggu……        
Walau hatiku terasa pilu… ku kan tetap memberi restu……  
Permata hatiku “                                                                    

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More