Ada tiga orang bapak tua dari oirata
yang kesukaannya adalah memancing ( meti pai )
Mancing bukan sekedar untuk makan
tetapi sudah menjadi hobi mereka.
Suatu hari mereka berjanji untuk pergi
memancing bersama ( ita kaiwana )
Hari mulai petang dan mereka
mulai berkemas menyiapkan peralatan untuk melaut. Mereka berrencana untuk loren ( melaut ) di
pantai litti ( lilit ) menggunakan perahu ( losu )
karena perjalanan ke liti cukup
jauh, mereka mulai berjalan saat matahari hampir masuk ke peraduannya.
sesampainya di sana hari mulai gelap, mereka mulai mengatur tugas masing-masing,
dua bapak tugasnya memancing dan bapak yang lainnya mendayung perahu.
Tugas masing2 telah disepakati
dan mereka mulai bertolak ke laut ( loren ). Perahu melaju hingga melewati Ker
Lapai dan mereka berhenti dan mulai memancing di area Loron Wisi, mereka sangat
hafal tempat yang banyak ikannya.
Namun saat itu mungkin ikannya sedang
kekenyangan atau apa, sehingga sudah berjam-jam tetapi belum mendapat ikan yang
banyak seperti biasanya, kedua bapak yang bertugas memancing itu mulai ngantuk
dan keduanya mulai berencana untuk tidur. Bapak yang duduk di bagian depan
perahu mulai melemparkan umpannya ke laut dan berkata kepada bapak yang
tugasnya mendayung perahu, katanya " hae,, modale, ate i'i pale to ante
isa taya tii " sambil menyerahkan pangkal tasi kepada pendayung perahu
tadi. Tak lama kemudian bapak yang di belakang pun berkata “ modale, ante ede i’pusal
lolore ti hoo….. dan Ia pun tertidut pula.
Karena dingin kedua bapak ini
tidur berselimutkan kain tanah yang tebal tenunan sendiri ( nami lau ).
Tinggalah bapak pendayung perahu yang masi duduk di bagian tengah perahu yang
tidak ada tempat untuk tidur. Malam semakin larut, ikan pun tak kunjung datang
menggetarkan tasi yang sedang dipegang oleh sang pendayung akhirnya Ia pun
mulai ngantuk sedangkan kedua bapak itu semakin terlelap ( haroson koukoure ).
Malam pun tambah larut, kira-kira
pukul 2 pagi ngantuk sang pendayung perahu tak tertahan lagi sedangkan tidak
ada tempat untuk berbaring, ia berpikir “ it taya le pani ha anutu i’nanamire
le umamara pana ??” Ia pun berdiri dan
kaki yang satunya berada di dalam perahu sedangkan kaki yang lainnya menginjak
dan menekan pinggiran perahu ( losui serin lare to ) perahu pun miring dan kedua bapak yang sedang
terlelap dan mungkin saat itu sedang bermimpi indah akhirnya jatuh ke dalam
air. Serentak terkejut di dalam air “ eta i’naima, eta ina paina !!! “ teriak
kedua bapak tua itu dalam air memaki dan memarahi pendayung perahu.
Dengan santai dan polos si
pendayung berkata “ harara i’nusa pe’e nara ene to apte i’ sukan nusa e, i ‘
yeyen itu inusan te’eee “
Sambil marah dan maki-maki kedua
bapak tua itu berusaha untuk naik kembali ke peraahu. Getaran gigi keduanya
terdengar dan membuat si pendayung perahu itu tertawa kecil, sambil bertanya “
harara ee, aputu lere pana ?? “ Dengan
sisa-sisa marah itu bapak yang di depan berkata “ yo, aputu lere “
Akhirnya malam itu mereka pulang
dengan tidak membawa ikan.
Dan cerita mereka menjadi sebuah
kisah yang tak pernah terlupakan dari generasi-ke generasi.




0 komentar:
Posting Komentar