Robot Unicorn Button Beats Virtual Piano 4.0
buttonbass.com

Senin, 09 September 2013

KISAH TIGA PAK TUA OIRATA PERGI MEMANCING



Ada tiga orang bapak tua dari oirata yang kesukaannya adalah memancing ( meti pai )
Mancing bukan sekedar untuk makan tetapi sudah menjadi hobi mereka. 
Suatu hari mereka berjanji untuk pergi memancing bersama ( ita kaiwana )
Hari mulai petang dan mereka mulai berkemas menyiapkan peralatan untuk melaut.  Mereka berrencana untuk loren ( melaut ) di pantai litti ( lilit ) menggunakan perahu ( losu )
karena perjalanan ke liti cukup jauh, mereka mulai berjalan saat matahari hampir masuk ke peraduannya. sesampainya di sana hari mulai gelap, mereka mulai mengatur tugas masing-masing, dua bapak tugasnya memancing dan bapak yang lainnya mendayung perahu.
Tugas masing2 telah disepakati dan mereka mulai bertolak ke laut ( loren ). Perahu melaju hingga melewati Ker Lapai dan mereka berhenti dan mulai memancing di area Loron Wisi, mereka sangat hafal tempat yang banyak ikannya.
Namun saat itu mungkin ikannya sedang kekenyangan atau apa, sehingga sudah berjam-jam tetapi belum mendapat ikan yang banyak seperti biasanya, kedua bapak yang bertugas memancing itu mulai ngantuk dan keduanya mulai berencana untuk tidur. Bapak yang duduk di bagian depan perahu mulai melemparkan umpannya ke laut dan berkata kepada bapak yang tugasnya mendayung perahu, katanya " hae,, modale, ate i'i pale to ante isa taya tii " sambil menyerahkan pangkal tasi kepada pendayung perahu tadi. Tak lama kemudian bapak yang di belakang pun berkata “ modale, ante ede i’pusal lolore ti hoo….. dan Ia pun tertidut pula.
Karena dingin kedua bapak ini tidur berselimutkan kain tanah yang tebal tenunan sendiri ( nami lau ). Tinggalah bapak pendayung perahu yang masi duduk di bagian tengah perahu yang tidak ada tempat untuk tidur. Malam semakin larut, ikan pun tak kunjung datang menggetarkan tasi yang sedang dipegang oleh sang pendayung akhirnya Ia pun mulai ngantuk sedangkan kedua bapak itu semakin terlelap ( haroson koukoure ).
Malam pun tambah larut, kira-kira pukul 2 pagi ngantuk sang pendayung perahu tak tertahan lagi sedangkan tidak ada tempat untuk berbaring, ia berpikir “ it taya le pani ha anutu i’nanamire le umamara pana ??”  Ia pun berdiri dan kaki yang satunya berada di dalam perahu sedangkan kaki yang lainnya menginjak dan menekan pinggiran perahu ( losui serin lare to )  perahu pun miring dan kedua bapak yang sedang terlelap dan mungkin saat itu sedang bermimpi indah akhirnya jatuh ke dalam air. Serentak terkejut di dalam air “ eta i’naima, eta ina paina !!! “ teriak kedua bapak tua itu dalam air memaki dan memarahi pendayung perahu.
Dengan santai dan polos si pendayung berkata “ harara i’nusa pe’e nara ene to apte i’ sukan nusa e, i ‘ yeyen itu inusan te’eee “ 
Sambil marah dan maki-maki kedua bapak tua itu berusaha untuk naik kembali ke peraahu. Getaran gigi keduanya terdengar dan membuat si pendayung perahu itu tertawa kecil, sambil bertanya “ harara ee, aputu lere pana ?? “  Dengan sisa-sisa marah itu bapak yang di depan berkata “ yo, aputu lere “
Akhirnya malam itu mereka pulang dengan tidak membawa ikan.
Dan cerita mereka menjadi sebuah kisah yang tak pernah terlupakan dari generasi-ke generasi.

 I Love Oirata

0 komentar:

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More